October 27, 2013

Pemuda-Pemudi, Di Tanganmu Indonesia Hebat

“Wahai Putra Putri Bangsa, bersatulah! Di tanganmu Indonesia hebat!” kalimat yang penulis dengar dari radio dan lihat di televisi dalam iklan #INDONESIAHEBAT, ditayangkan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2013 oleh BP Pemilu PDI Perjuangan. Iklan ini menarik perhatian penulis dalam tiga perspektif, yaitu sebagai kader PDI Perjuangan, sebagai pemerhati komunikasi, dan sebagai pemuda Indonesia.

Perspektif pertama adalah sebagai kader PDI Perjuangan. Mendengar Ketua Harian BP Pemilu PDI Perjuangan Puan Maharani mengucapkan kalimat “Wahai Putra Putri Bangsa, bersatulah, di tanganmu Indonesia hebat!” dengan lantang dan tegas, hati penulis tergerak. Bukan hanya karena penulis juga sebagai Tenaga Ahli beliau di DPR, namun karena di dalam satu kalimat itu terkandung semangat sejarah pemikiran Indonesia, kekhawatiran masa kini di benak orang Indonesia, dan harapan atas masa depan yang terpendam di hati banyak rakyat.

June 23, 2013

Lain Brasil, Lain Indonesia

Demonstrasi di Brasil tengah berlangsung marak di tengah berlangsungnya Piala Konfederasi 2013 dan persiapan Piala Dunia Brasil 2014. Uniknya Presiden Brasil Dilma Rousseff mengatakan apa yang sedang terjadi di negaranya sebagai demonstrasi dari kelas menengah yang menuntut taraf kehidupan yang lebih tinggi. Rakyat Brasil menyatakan sudah muak dengan korupsi, tingginya biaya transportasi umum, dan buruknya layanan kesehatan.

Demonstrasi kelas menengah Brasil tersebut menarik karena seakan mematahkan pendapat bahwa kelas menengah dan mapan ekonomi cenderung memilih kestabilan dibanding gunjang ganjing yang dapat memengaruhi kondisi ekonomi mereka. Walaupun ada juga pendapat di International Herald Tribune edisi 22-23 Juni 2013 yang mengatakan bahwa rakyat Brasil turun ke jalan menuntut perubahan karena ada stagnasi atas taraf hidup mereka selama ini yang terkenal dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat.

May 30, 2013

Keturunan Politisi: Salah Bunda Mengandung?

Nanti kamu harus jadi orang yang berguna untuk bangsa dan negara”…itulah salah satu pesan dari almarhum ayah saya. Seorang politisi senior yang membesarkan anak-anaknya dengan harapan kami dapat menjadi orang berguna. Sedari kecil kami selalu diberi wejangan, pencerahan dan didorong agar berhasil di bidang pendidikan. Dari tiga bersaudara, akhirnya saya yang terjun dan mendalami dunia politik, sembari terus mengingat pesan yang yang almarhum ayah pernah berikan.

Saya yakin ada banyak anak politisi lain yang mengalami hal serupa. Ada yang akhirnya memilih jalur lain, ada yang memutuskan untuk masuk jalur politik. Ibarat pepatah asing “the apple does not fall far from the tree”, itulah anak-anak politisi yang kemudian terlibat dalam bidang politik.

April 01, 2013

DPR: 3 Fungsi, 1 Manfaat


Cobaan demi cobaan terus mendera Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Repubik Indonesia belakangan ini. Mulai dari kasus korupsi, kunjungan ke luar negeri yang didaulat sebagai pemborosan, renovasi dan pembangunan gedung baru yang biayanya dianggap terlalu berlebihan, produktifitas legislasi yang rendah, kapasitas anggota DPR yang dianggap tidak mumpuni, dll. Walaupun beberapa kritikan/masukan ada yang valid, namun dengan berbagai sorotan yang terus mendera muncul pula analisa bahwa serangan atas citra DPR merupakan bagian rencana terkoordinir guna mendelegitimasi DPR sebagai sebuah lembaga negara. Baik itu kritik konstruktif ataupun serangan bermotif, kualitas DPR sebagai salah satu kaki dari trias politica memang perlu terus ditingkatkan. Namun untuk melakukan itu perlu dipahami secara utuh fungsi dan manfaat keberadaan DPR dalam sistem politik Indonesia.

Di tahun 2013, sesuai peraturan KPU No 18/2012 tentang tahapan pemilu legislatif, akan dimulai proses administrasi penentuan Daftar Calon Sementara (DCS) dan Daftar Calon Tetap (DCT) untuk masing-masing partai politik (parpol). Daftar tersebut bukan hanya akan memuat nama tapi sebenarnya juga akan memuat harapan. Bagi parpol, daftar tersebut akan memuat harapan bahwa calon-calon legislatif (caleg) yang bisa menguatkan pendulangan suara parpol di pileg 2014 guna menghasilkan pegangan yang kuat, secara kuantitatif dan kualitatif, di DPR nantinya. Bagi para caleg sendiri, daftar tersebut akan memuat harapan mereka masing-masing guna mewujudkan mimpinya di dunia politik, baik itu mimpi ideologis atau mimpi kepentingan pribadi. Bagi rakyat di masing-masing daerah pemilihan (dapil), daftar tersebut memuat harapan mereka agar ada wakil-wakilnya yang bisa memperjuangkan aspirasi rakyat di dapil-dapil tersebut.

January 13, 2013

Pencitraan: Dibenci tapi Dirindu

Dalam kosa kata politik Indonesia selama beberapa tahun terakhir dikenal istilah “pencitraan politik” yang acapkali menjadi sumber perdebatan negatif di masyarakat. Bagi banyak orang di Indonesia istilah tersebut digunakan secara negatif untuk menggambarkan seseorang/kelompok yang membangun citra (image) secara semu, atau tanpa adanya bukti nyata. Padahal mengingat pencitraan politik masuk ke dalam ranah pemasaran politik (political marketing) maka sebenarnya “produk” yang dijual ke pemilih ada empat. Pertama, ideologi dari partai politik. Kedua, program-program yang diajukan partai politik. Ketiga, rekam jejak (track record) partai politik. Keempat, karakteristik dari tokoh-tokoh yang ada di partai politik tersebut. Jadi secara teori, pencitraan politik seharusnya berakar pada kenyataan.

Namun jauh panggang dari api, pelaksanaan pencitraan politik telah berubah menjadi “politik pencitraan” yang lebih condong kepada propaganda. Dalam arti teknik tersebut digunakan untuk membangun citra guna memeroleh dukungan masyarakat, padahal acapkali tidak terasa kenyataannya. Sebagai buah dari metode kampanye politik modern, pencitraan politik mulai diterapkan di Indonesia pada masa pemilihan umum (pemilu) 2004 yang mengangkat Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden terpilih langsung pertama. Sistem pemilu presiden yang berubah menjadi pemilihan suara terbanyak juga menjadi pupuk yang menyuburkan praktik pencitraan politik di Indonesia. Ironisnya, praktik pencitraan politik yang turut berperan menghantarkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden di tahun 2004, malah menuai kritik demi kritik selama 9 tahun pemerintahannya.