Selama 69 tahun kemerdekaan
Indonesia, satu wacana seakan tak pernah sirna dalam kehidupan bangsa kita
yaitu tentang SARA (suku, agama, ras, antar golongan). Sejak masa sidang BPUPK
(Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan), perdebatan Indonesia merdeka
itu negara siapa telah ada. Apakah untuk kelompok ras tertentu? Apakah untuk
kelompok agama tertentu? Apakah untuk kelompok suku tertentu? Kita berpikir
dengan ditetapkan Pancasila dan UUD 1945 perdebatan itu telah selesai. Bahwa
Indonesia yang merdeka adalah negara untuk semua. Sayangnya di masa modern
sekarang, perdebatan itu tampak belum benar-benar tuntas.
Life is an endless pursuit of knowledge. Personal opinion (in English or Indonesian) on anything I think is interesting... mostly about politics, brand, and communication.
Showing posts with label bhinneka tunggal ika. Show all posts
Showing posts with label bhinneka tunggal ika. Show all posts
July 10, 2014
October 27, 2013
Pemuda-Pemudi, Di Tanganmu Indonesia Hebat
“Wahai
Putra Putri Bangsa, bersatulah! Di tanganmu Indonesia hebat!” kalimat yang penulis
dengar dari radio dan lihat di televisi dalam iklan #INDONESIAHEBAT,
ditayangkan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2013 oleh
BP Pemilu PDI Perjuangan. Iklan ini menarik perhatian penulis dalam tiga
perspektif, yaitu sebagai kader PDI Perjuangan, sebagai pemerhati komunikasi,
dan sebagai pemuda Indonesia.
Perspektif
pertama adalah sebagai kader PDI Perjuangan. Mendengar Ketua Harian BP Pemilu PDI
Perjuangan Puan Maharani mengucapkan kalimat “Wahai Putra Putri Bangsa,
bersatulah, di tanganmu Indonesia hebat!” dengan lantang dan tegas, hati
penulis tergerak. Bukan hanya karena penulis juga sebagai Tenaga Ahli beliau di
DPR, namun karena di dalam satu kalimat itu terkandung semangat sejarah
pemikiran Indonesia, kekhawatiran masa kini di benak orang Indonesia, dan
harapan atas masa depan yang terpendam di hati banyak rakyat.
November 02, 2012
Bukan Indonesia KTP
Di atas kertas konflik Lampung Selatan menjadi satu tambahan
angka bagi 89 konflik sosial yang telah terjadi di Indonesia dari Januari
hingga Agustus 2012 (data Kemdagri). Namun di atas semangat Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) konflik Lampung Selatan adalah satu noda hitam lagi
setelah adanya 89 noda hitam konflik sosial yang tersebar di Nusantara
sepanjang tahun. Noda hitam peristiwa Lampung Selatan pun semakin membesar
dengan kegagalan upaya mendamaikan desa-desa yang bertikai (Kompas, 1 November 2012). Inilah
kenyataan sosial Indonesia yang mengkhawatirkan dan segera membutuhkan solusi.
Solusi yang kita butuhkan sebenarnya tidak perlu dicari lagi.
Sebab sudah ada tertanam sebagai wujud kearifan nasional kebangsaan Indonesia yaitu
konsep Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua. Bhinneka Tunggal
Ika telah ditempatkan sebagai satu dari empat pilar kehidupan berbangsa dan
bernegara yang kita harapkan menjadi pilar kokoh menopang keberlangsungan
Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara. Berbagai konflik sosial yang
terjadi, termasuk gagalnya upaya pendamaian di Lampung Selatan, menunjukkan
kepada kita bahwa walaupun Bhinneka Tunggal Ika sudah ditanamkan dalam benak
rakyat Indonesia tapi dia belum bertumbuh secara penuh. Dia belum bertumbuh
menjadi pohon rindang yang mampu memberikan kenyamanan dan lindungan dari
teriknya sinar perpecahan serta egoisme kelompok.
Subscribe to:
Posts (Atom)