May 30, 2013

Keturunan Politisi: Salah Bunda Mengandung?

Nanti kamu harus jadi orang yang berguna untuk bangsa dan negara”…itulah salah satu pesan dari almarhum ayah saya. Seorang politisi senior yang membesarkan anak-anaknya dengan harapan kami dapat menjadi orang berguna. Sedari kecil kami selalu diberi wejangan, pencerahan dan didorong agar berhasil di bidang pendidikan. Dari tiga bersaudara, akhirnya saya yang terjun dan mendalami dunia politik, sembari terus mengingat pesan yang yang almarhum ayah pernah berikan.

Saya yakin ada banyak anak politisi lain yang mengalami hal serupa. Ada yang akhirnya memilih jalur lain, ada yang memutuskan untuk masuk jalur politik. Ibarat pepatah asing “the apple does not fall far from the tree”, itulah anak-anak politisi yang kemudian terlibat dalam bidang politik.

Sayangnya di masa sekarang anak politisi seakan mendapat kutukan massal dengan dilabeli istilah “politik dinasti”. Saya sebut ‘kutukan’ karena kami para anak politisi dipandang sebagai individu-individu tanpa dedikasi, tanpa kemampuan, dan bahwa kesuksesan kami di masa kini hanya mengandalkan prestasi orang tua kami, tanpa ada prestasi dari diri kami sendiri.

Tapi apakah kritikan-kritikan itu semua sudah tepat sasaran? Salah kami-kah dikandung bunda dan dibesarkan di keluarga politisi? Kami tidak meminta dilahirkan sebagai anak politisi. Tapi apakah salah kalau kami akhirnya memutuskan ingin mendalami dunia politik?

Memang benar banyak dari anak politisi seperti saya yang mendapat ‘kelebihan’ dalam bentuk pendidikan serta sedari kecil sudah melihat langsung cara politik bekerja dari orangtua kami. Saya sendiri yang datang dari keluarga kelas menengah sangat bersyukur sebab sejak kecil almarhum ayah selalu menekankan pendidikan yang baik. Kala teman-teman sedang bermain, saya di-‘wajibkan’ almarhum untuk belajar bahasa Inggris. Saya dihukum almarhum ketika tidak hafal Pancasila. Sampai akhirnya saya berhasil lulus UMPTN dan dengan rejeki almarhum saya disekolahkan di luar negeri, walaupun keuangan kami tidak melimpah. Almarhum juga mengajak saya ke beberapa acara politiknya saat kecil. Ketika saya duduk di bangku kuliah, beliau mengajak saya ke beberapa rapat dan diskusi politik yang dihadirinya. Boleh dikatakan akhirnya muncul panggilan dari diri saya sendiri untuk meneruskan jejak beliau sebagai politisi.

Sekali lagi, saya yakin banyak anak politisi yang memiliki cerita serupa. Kami memang mendapat ‘kelebihan’ dari segi pendidikan dan pengalaman politik sejak kecil. Akan tetapi saya rasa itu bukan berarti kami merupakan individu yang hanya bisa menumpang nama orangtua. Malah sebenarnya nama orangtua sebagai politisi menjadi tanggungan kami yang terjun di bidang politik. “Jaga nama baik papa” seperti itu kata ibu saya. Sebab orang-orang pasti akan membandingkan kami sang anak dengan sang orangtua, terlepas dari apakah kami memiliki ciri khas politik sendiri.

Bekal yang sudah diberikan oleh orangtua memang membantu kami para anak politisi untuk mengetuk pintu dunia politik, tapi kami butuh kemampuan sendiri untuk bisa membuka pintu dan melangkah maju. Dan bila objektif dipertimbangkan, setiap orangtua pasti memberikan bekal kepada anaknya. Bekal pendidikan, bekal nilai-nilai sosial, dan bekal-bekal lainnya. Semua diberikan orangtua ke sang anak dengan harapan anaknya lebih berhasil daripada orangtuanya. Dan menurut saya harapan ini ada di semua hati orangtua, terlepas apapun profesinya.

Sayangnya bagi anak politisi, bekal dari orangtua kami yang diberikan dengan harapan sama seperti kebanyakan orangtua lainnya yaitu guna meringankan kehidupan masa depan anak-anaknya, malah menjadi beban tambahan kami di masa sekarang. Dengan label istilah “politik dinasti” bekal orangtua kami dianggap sebagai sebuah legitimasi bahwa kami tidak memiliki keahlian sendiri. Bahwa semua yang dimiliki anak-anak politisi hanya karena ‘diberikan’ orangtua kami. Kalaupun kami para anak politisi berhasil meraih sebuah prestasi karena kemampuan kami sendiri, cibiran dan keraguan orang tampaknya akan selalu ada.

Tapi pemikiran negatif banyak orang tidak akan menghalangi saya untuk menjadi orang yang berguna untuk bangsa dan negara melalui bidang politik. Bagi saya tidak ada salahnya anak politisi menjadi politisi, tidak ada salahnya anak guru menjadi guru, tidak ada salahnya anak dokter menjadi dokter dan seterusnya. Yang salah mungkin bila anak politisi tidak memiliki kemampuan politik tapi memaksakan diri menjadi politisi tanpa ada keinginan untuk mengembangkan kemampuan politiknya sendiri. Sama halnya bila anak seorang montir tidak mengerti mesin tapi memaksakan diri menjadi montir tanpa ingin mengasah kemampuannya sendiri.

Jadi menurut saya inti perdebatan dari ‘dinasti politik’ harusnya bukan soal biologis tapi soal kemampuan. Bila anak seorang politisi memang memiliki keahlian/kemampuan, serta dedikasi, tidak ada salahnya dia menyumbangkan kemampuannya untuk kepentingan bangsa dan negara. Bila ada dedikasi dan juga dengan modal ‘bekal’ orangtua seperti pendidikan dan pengetahuan, seorang anak politisi dapat menggunakan kedua modal tersebut dan mengembangkannya untuk memunculkan keahliannya sendiri.

Saya sendiri merasa sangat terbantu dengan ‘modal awal’ dari almarhum ayah berupa pendidikan dan pengetahuan, serta nama harum beliau untuk saya terjun pertama di dunia politik. Akan tetapi saya sekarang menyusuri jalan saya sendiri dan dengan kemampuan sendiri guna terus mengembangkan kemampuan agar bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Saya tidak akan bertahan lama di dunia politik bila saya hanya mengandalkan nama harum almarhum ayah tanpa ada kemampuan saya sendiri. Keahlian untuk berdiskusi, mengambil keputusan, dan pergerakan politik, hanyalah beberapa keahlian politik yang harus saya pelajari/alami sendiri.

Memang angin akan terus berhembus. Dalam arti saat ini bagi anak politisi seperti saya yang mendalami dunia politik akan terus menghadapi keadaan seakan salah bunda kami mengandung. Bahwa akan terus ada orang yang meragukan dan mencibir keberhasilan kami dan menyimpulkan bahwa itu semua hanya karena kami secara biologis keturunan keluarga politisi, dan kami tidak memiliki kemampuan sendiri.


Pro dan kontra sudah menjadi sebuah keniscayaan, termasuk dalam topik “keturunan politisi yang menjadi politisi”. Dalam hal ini menurut saya jawabannya bukan sekedar “waktu yang akan membuktikan” tapi juga mencakup “berbuat kebaikan tanpa pamrih”. Sebab niat awal saya untuk terjun dalam politik bukanlah mendapat pamrih atau pujian dari orang, melainkan untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara seperti pesan almarhum ayah.

No comments:

Post a Comment